Let’s travel together.

Salah Satu Ruangan Kosong di Loji Gandrung Ternyata Pernah Dihuni Oleh Presiden Pertama Indonesia

0 105

Sebuah bangunan tua yang berada di jalan Selamet Riyadi Solo sangatlah menarik untuk dikulik. Bangunan tersebut dekat sekali dengan sejarah. Bangunan yang mempunyai gaya arsitektur Indis ini akrab disebut dengan Loji Gandrung. Bangunan ini memiliki luas 3.500 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 6.295 meter persegi.

Arsitektur Indis ini lahir dari muculnya budaya Indis yang merupakan perpaduan antara budaya Eropa (Belanda) dengan budaya lokal (Jawa). Sekarang, bangunan tersebut menjadi rumah dinas Wali Kota Surakarta.

Foto Soekarno di dalam kamar

Sejarah Loji Gandrung

Ranjang yang konon dulunya menjadi tempat istrirahat soekarno

Rumah tua yang masih nampak berdiri kokoh itu tak lepas dari sebuah sejarah. Rumah ini dulunya adalah milik seorang pionir perkebunan Belanda di wilayah Surakarta bernama Jonannes Agustinus Dezentje.  Dia adalah keturunan dari August Jan Casper Dezentje yang merupakan seorang pengawal Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan pangkat letnan.

Setalah dewasa Tinus menikah dengan Johanna Dorothea Boode pada 23 Oktober 1814 dan tinggal di rumah tersebut. Namun, setelah 20 tahun kemudian, Tinus menikah dengan Raden Ayu Tjondro Koesoemo, seorang putri dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan menetap di Ampel. Sebagai pengusaha perkebunanan yang terkemuka, Tinus sering mengadakan pesta dansa di rumahnya yang berada di Solo.

Seringnya digunakan untuk pesta dansa, maka masyarakat sekitar menyebutnya dengan acara gandrungan. Kata gandrungan berasal dari bahasa Jawa yang mempunyai kata dasar gandrung yang artinya tergila-gila karena asmara mendambakan seseorang. Sementara Loji berasal dari bahasa Belanda Loge yang artinya rumah besar dan berdinding tembok.

Mengintip kamar kosong milik Soekarno di Loji Gandrung

Perabotan yang konon sudah ada dari zaman dahulu

Ketika Traveler masuk ke halaman Loji Gandrung, Traveler akan melihat patung berukuran besar di halaman rumah. Patung tersebut adalah patung Jendral Gatot Subroto. Dulu, Loji Gandrung pun digunakan untuk menyusun strategi militer menghadapi agresi militer yang dilakukan Belanda melawan Sekutu. Inilah kenapa ada patung Gatot Subroto terpasang di sana.

Saat Traveler masuk ke teras depan, maka Traveler dapat melihat detil bangunan Loji Gandrung yang masih terjaga keasliannya. Ruang tamu yang besar pun dapat dilihat dengan leluasa. Di sisi kanan terdapat sebuah ruangan besar yang digunakan sebagai ruang rapat Wali Kota. Sedangkan di sisi kiri terdapat sebuah kamar yang ditutup dengan daun pintu kayu yang tebal.

wastafel yang ada di kamar Soekarno pun model jadul

Kamar tersebut adalah kamar milik Seokarno. Saat Soekarno datang ke Solo, beliau selalu singgah ke Loji Gandrung. Dan, kamar mendiami kamar tersebut. Di dalam kamar tersebut masih lengkap dengan berbagai perabotan Soekarno seperti tempat tidur, lemari, piano, dan foto soekarno. Kamar tersebut dibiarkan kosong, namun tetap dirawat dan dibersihkan.  

Jika Traveler penasaran dan ingin pergi ke sana, maka Traveler bisa ijin terlebih dahulu kepada petugas yang berjaga di sana. Meskipun Loji Gandrung ini dibuka untuk umum dan siapapun bisa masuk ke sana, tapi status rumah tersebut adalah rumah Dinas Wali Kota yang dengan penjagaan ketat dan pengawasan. Jadi alangkah baiknya jika Traveler meminta ijin terlebih dahulu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.